Edwins Gallery, Indonesian Contemporary Kinetic Art Gallery 

Published on September 8 2017

Karya seni adalah satu hasil perenungan manusia, yang senantiasa mempertunjukkan suatu hal serta mempunyai nilai. Tidak gantinya melihat dunia dalam perspektif alam bawah sadar, semuanya ditampilkan dalam sebentuk benda yang senantiasa sarat dengan arti.

Masuk masa modernisasi di mana pergerakan penolakan semakin diperlihatkan oleh karya seni kontemporer yang seakan menentang bentuk-bentuk yang sama dengan seni moderen. Perubahan warna kontemporer yang tampak cukup cepat menghiasi beberapa ruangan pamer karya seni, seperti di Edwins Gallery, dengan hidangan hasil-hasil karya seni kontemporer. Termasuk juga juga di dalamnya anak cabang seni kontemporer yakni Kinetic Art atau seni kinetic yang disebut pengembangan sekalian kombinasi dari seni kontemporer serta ilmu dan pengetahuan serta tehnologi.

Perubahan nuansa kontemporer sesungguhnya bukan sekedar ada pada karya-karya seni rupa saja, bahkan juga seni-seni berbentuk beda, misalnya seni tari kontemporer, seni peranan, serta beda sebagainya. Demikian halnya seni wayang kontemporer, waktu demikian banyak disukai oleh orang-orang, seperti dapatlah disebutkan kalau terobosan ini seperti seni kinetik yang dilahirkan atau adalah perubahan dari seni kontemporer.

Penyajian dalam wayang kontemporer juga di dukung oleh peran ilmu dan pengetahuan serta tehnologi seperti audio visual, system digital, animasi, yang digabungkan dengan tokoh-tokoh pewayangan yang unik serta menarik lewat design animasi yang pastinya lain dari umumnya. Seni Kontemporer ini tidak cuma mengikat beberapa ruangan seni rupa saja, tetapi juga menyentuh keseluruhnya sisi dari seni di masa masa saat ini, dengan dasarnya yang tetaplah menentang pada pergerakan modernisme.

Keterlibatan ‘gerakan’ (movement, motion) dalam kombinasi dampak dengan tehnologi berikut yang diberi nama kinetic art. Walau belum juga banyak di kenal orang hingga tingkat popularitasnya masih tetap rendah, seni kinetik ini punya potensi besar dapat menarik ketertarikan orang-orang untuk mengetahui, pelajari, serta mengerti karya seni. Ditambah sekali lagi Indonesia mempunyai banyak seniman senior yang begitu kuasai pemahaman juga akan hal itu, sekalian sudah melahirkan karya-karya terbaiknya dalam seni kinetik.

Jadi salah satu pelopor pameran kinetic art yang pertama kalinya di Indonesia yaitu Edwin Rahardjo dengan menciptakan Indonesian Contemporary Art Gallery, dalam pameran Kinetic Art Edwin’s Gallery yang menghadirkan karya-karya kinetic art internasional, seperti : Myths Chariot karya Bob Potts, selain karya-karya seniman lokal seperti Bagus Pandega, Rudi Hendrianto, serta Edwin Rahardjo sendiri.

Dengan hal tersebut, semakin meningkatnya perubahan ilmu dan pengetahuan serta tehnologi, juga akan tingkatkan juga laju perubahan seni didunia, terlebih di Indonesia. Di mana perkiraannya yaitu potensi lahirnya aliran-aliran seni baru yang berlandaskan seni kontemporer juga akan berkembang dengan subur.
 

Repost0
To be informed of the latest articles, subscribe:
Comment on this post
T
This blog website is pretty cool! How was it made !
Reply